BB-RankMenguji · LEVEL
Bedah 4 Agustus 2026 8 mnt baca

HTI Dicap Khawarij: Menimbang Tuduhan dan Bantahannya

HTI sering dicap Khawarij oleh sebagian kalangan Salafi. Ini enam ciri Khawarij menurut hadits, dan bantahan HTI, ditimbang dua sisi tanpa vonis sepihak.

HTI Dicap Khawarij: Menimbang Tuduhan dan Bantahannya
Daftar Isi

Di Solo Leveling, Sung Jinwoo dicap hunter E-class, peringkat terlemah yang bahkan menjadi bahan tertawaan sesama hunter. Sepanjang hidupnya di dunia itu, ia dianggap tidak akan pernah berarti, dan label itu melekat erat tanpa ada yang mencoba menimbang ulang. Bertahun-tahun kemudian, label itu runtuh total: ia ternyata Shadow Monarch, sosok yang namanya justru membuat para hunter level S gemetar. Yang dicap lemah ternyata menyimpan realita yang jauh berbeda dari label yang menempel di namanya.

HTI mengalami nasib yang mirip dengan satu kata: Khawarij. Label itu diucapkan berulang kali di ceramah, artikel, dan buku bantahan, sampai sebagian orang menganggapnya sebagai fakta yang sudah selesai. Tulisan ini bukan pembelaan, dan bukan pula pengesahan tuduhan itu. Ini cuma usaha menimbang: apa dasar tuduhannya, dan apa jawaban dari pihak yang dituduh. Kalau kamu belum familiar dengan HTI secara umum, HTI Itu Apa ada baiknya dibaca dulu.

Apa Itu Khawarij, Sebenarnya?

Kata Khawarij berasal dari bahasa Arab kharaja, artinya “yang keluar”. Secara historis, ini bukan kelompok yang lahir dari nol. Mereka awalnya adalah pendukung Ali bin Abi Thalib dalam Perang Shiffin melawan Muawiyah. Ketika Ali menerima proses arbitrase (tahkim) untuk mengakhiri pertumpahan darah sesama muslim, sekelompok pendukungnya justru menolak keputusan itu dan keluar dari barisan Ali. Mereka lantas berbalik menganggap Ali, Muawiyah, dan siapa pun yang menerima arbitrase itu telah kafir keluar dari Islam, dengan semboyan yang terdengar saleh: la hukma illa lillah (“tidak ada hukum selain hukum Allah”), meski maksudnya dipakai untuk menolak proses damai yang sah.

Khawarij lahir dari kelompok yang tadinya paling setia, lalu berbalik menganggap orang-orang yang dulu mereka bela sebagai musuh yang harus diperangi. Itu yang membuat label ini begitu berat: ia bukan cuma soal beda pendapat, tapi soal siapa yang berhak disebut keluar dari Islam.

Enam Ciri Khawarij Menurut Hadits

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri memperingatkan tentang kemunculan kelompok ini jauh sebelum mereka benar-benar muncul secara historis pasca-Shiffin. Haditsnya termasuk yang paling banyak diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari berbagai jalur sahabat.

إِنَّ نَاسًا مِنْ أُمَّتِي سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَلَاقِيمَهُمْ، يَخْرُجُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَخْرُجُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ، هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ

Inna nāsan min ummatī sīmāhumut-taḥlīq, yaqra'ūnal-Qur'āna lā yujāwizu ḥalāqīmahum, yakhrujūna minad-dīni kamā yakhrujus-sahmu minar-ramiyyah, tsumma lā ya'ūdūna ilayh, hum syarrul-khalqi wal-khalīqah.

"Sesungguhnya akan ada suatu kaum dari umatku, ciri mereka adalah mencukur (kepala), mereka membaca Al-Qur'an tapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari sasaran buruannya, kemudian mereka tidak akan kembali kepadanya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk."

HR Bukhari no. 3344, HR Muslim no. 2468

Dari hadits ini dan riwayat-riwayat pendukung lainnya, para ulama merangkum ciri Khawarij menjadi beberapa poin:

  1. Membaca Al-Qur’an tapi tidak menembus kerongkongan. Bacaannya fasih, hafalannya kuat, tapi maknanya tidak sampai meresap jadi pemahaman yang utuh, apalagi kerendahan hati.
  2. Melesat keluar dari agama secepat anak panah lepas dari busur. Perpindahan sikapnya drastis dan cepat, dari taat menjadi menuduh sesama muslim keluar dari Islam.
  3. Tidak sopan kepada pemimpin, termasuk kepada para Khulafa Rasyidin. Bukan sekadar kritik, tapi celaan yang melampaui batas adab.
  4. Sangat taat beribadah, tapi keras terhadap sesama muslim. Riwayat lain menyebut mereka mudah menumpahkan darah muslim, sementara membiarkan penyembah berhala.
  5. Suka mencela dan mengkafirkan pemimpin serta ulama yang dianggap menyimpang dari standar mereka sendiri.
  6. Ciri fisik tertentu seperti gemar mencukur kepala, disebut sebagai penanda kontekstual pada masa itu, bukan syarat yang berdiri sendiri.

Poin krusial dari semua ciri ini bukan sekadar “kritis pada penguasa”. Krusialnya ada di titik ekstrem: mengkafirkan sesama muslim yang berbeda pendapat, sampai menghalalkan darahnya.

Kenapa HTI Dituduh Begitu?

Tuduhan ini datang paling gencar dari sebagian kalangan Salafi. Argumennya berlapis: HTI dianggap menampilkan distorsi penafsiran terhadap sejumlah nash, terjebak fanatisme pada pemahaman sendiri sehingga tidak mentolerir penyimpangan sekecil apa pun dari pandangannya, dan sikapnya terhadap penguasa dianggap mirip pola Khawarij yang mencela pemimpin secara terbuka. Ada pula makalah akademik berjudul “Jejak Neo-Khawarij: Studi Kasus Hizbut Tahrir Indonesia” yang menempatkan perbandingan ini dalam kerangka kajian ilmiah, bukan sekadar polemik lisan.

Tuduhan ini juga tidak berhenti di forum tulisan. Ada laporan bahwa dalam sebuah konferensi Taliban di Ghor, Hizbut Tahrir disebut sebagai Khawarij dengan konsekuensi bahwa darah anggotanya halal ditumpahkan. Ini penting dicatat: kalau tuduhan semacam ini dibiarkan tanpa ditimbang, ia bisa jadi bukan sekadar debat akademik, melainkan pintu ke arah kekerasan nyata terhadap sesama muslim.

Sebuah label yang bermula dari perdebatan metodologi bisa berakhir jadi pembenaran menumpahkan darah. Ini bukan alasan untuk menghindari perdebatannya, justru alasan untuk menimbangnya dengan lebih hati-hati, bukan lebih emosional.

Bantahan HTI: Siapa yang Dilawan Itu Beda

HTI membantah tuduhan ini dengan argumen yang bertumpu pada satu perbedaan mendasar: siapa yang dilawan. Menurut HTI, Khawarij historis memerangi penguasa yang justru sedang menjalankan hukum Allah, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri, semata karena tidak sepakat dengan keputusan arbitrase yang sah. Sementara HTI mengkritik dan menasihati penguasa yang justru tidak menjalankan hukum Allah, dengan cara yang mereka klaim terbuka: opini publik, tulisan, dan dakwah, bukan mengangkat senjata.

Ilustrasi dua sasaran: di kiri anak panah Khawarij menembus lurus sebuah target yang menyala, penguasa yang menjalankan hukum Allah, diperangi. Di kanan surat dari HTI mengarah dengan garis putus-putus ke target yang redup, penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah, dinasihati bukan diperangi.
Sama-sama menyasar penguasa. Bedanya siapa yang dilawan, dan bagaimana caranya.

Perbedaan metode ini yang mereka tekankan berulang kali. Dalam kerangka mereka sendiri, dakwah HTI bersifat fikriyyah la ‘unfiyyah, pemikiran bukan kekerasan, dan mereka menegaskan tidak pernah menghalalkan darah muslim, apa pun perbedaan pendapatnya. Kalau kamu ingin memahami metode dakwah tiga tahap yang mereka klaim ini lebih jauh, itu sudah dibahas di HTI Itu Apa.

Argumen kedua yang mereka ajukan: Khawarij mengkafirkan hampir semua pihak yang tidak sepaham, termasuk sahabat-sahabat besar Nabi. HTI, sebaliknya, mengakui keabsahan seluruh rangkaian Khilafah dalam sejarah Islam, dari Khulafa Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, sampai Utsmaniyyah. Detail bagaimana mereka memaknai struktur dan legitimasi Khilafah itu sendiri ada di Khilafah Menurut HT. Mengakui keabsahan sejarah Islam yang panjang ini, menurut mereka, adalah bukti bahwa mereka tidak menjalankan pola pikir Khawarij yang serba mengkafirkan.

Titik Temu yang Jujur Diakui

Adil berarti dua telinga. Ada kemiripan permukaan yang tidak bisa disangkal: sama-sama kritis secara terbuka terhadap penguasa, dan sama-sama yakin bahwa pemahaman merekalah yang paling sesuai dengan nash. Kemiripan permukaan ini yang sering dipakai sebagai pijakan tuduhan.

Tapi menyamakan kemiripan permukaan dengan kesamaan esensi adalah generalisasi yang gegabah, persis jenis kesalahan yang bahaya utamanya adalah melepas sebuah kejadian dari situasinya lalu menyamaratakannya dengan kejadian lain yang mirip di permukaan. Titik krusial dari Khawarij bukan soal berani mengkritik penguasa. Titik krusialnya ada di dua hal: siapa yang mereka perangi (penguasa yang menjalankan hukum Allah atau yang tidak), dan bagaimana cara mereka menyelesaikannya (mengkafirkan dan mengangkat senjata, atau menasihati lewat opini dan tulisan).

Satu hal lagi yang jarang disebut: label “Khawarij” ini juga sering digunakan secara luas ke berbagai gerakan lain di sepanjang sejarah, bukan eksklusif ditujukan ke HTI. Ini bukan alasan untuk mengabaikan tuduhannya, tapi alasan untuk memeriksa setiap kasus secara individual, bukan menelan generalisasi mentah-mentah.

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Ayyumamri'in qāla li-akhīhi yā kāfir, faqad bā'a bihā aḥaduhumā, in kāna kamā qāla, wa illā raja'at 'alayh.

"Siapa pun yang berkata kepada saudaranya, 'Wahai kafir', maka tuduhan itu kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika benar seperti yang dikatakannya, maka tidak mengapa. Namun jika tidak, tuduhan itu kembali kepada dirinya sendiri."

HR Bukhari no. 6104

Hadits ini relevan dua arah. Bagi yang mudah melempar tuduhan Khawarij, ia mengingatkan bahwa tuduhan yang tidak berdasar akan kembali menimpa penuduhnya sendiri. Bagi yang dituduh, ia bukan alasan untuk menolak introspeksi, melainkan pengingat bahwa tuduhan sebesar ini butuh bukti yang setimpal, bukan sekadar kemiripan permukaan.

Jadi, Bagaimana Menimbangnya?

Kalau harus dijawab jujur, bukan satu kalimat: secara ciri tekstual, ada beberapa titik singgung antara kritik HTI terhadap penguasa dan pola Khawarij yang dicela hadits, terutama soal ketajaman kritik kepada pemimpin. Tapi secara metodologis, klaim HTI sendiri menunjukkan perbedaan tegas di titik paling krusial: siapa yang dilawan, dan apakah mengangkat senjata atau menempuh opini publik. Secara historis, HTI mengakui keabsahan rangkaian Khilafah yang panjang, berbeda dari Khawarij yang mengkafirkan hampir semua pihak yang berbeda pendapat.

Infografis tiga titik krusial yang membedakan Khawarij dan HTI menurut klaim HTI sendiri: siapa yang dilawan, metode yang dipakai, dan sikap terhadap sejarah Khilafah.
Tiga titik krusial. Kemiripan permukaan bukan kesamaan esensi.

Menyimpulkan HTI “pasti Khawarij” tanpa memeriksa argumen metodologisnya adalah generalisasi yang gegabah. Menyimpulkan HTI “pasti bukan Khawarij” tanpa memeriksa kemiripan pola yang dicela hadits juga sama gegabahnya. Yang paling jujur adalah menahan vonis sampai argumen kedua sisi ditimbang, bukan hanya salah satunya. Kalau kamu ingin gambaran paling ringkas dan utuh soal HTI dalam satu halaman, Hizbut Tahrir Indonesia: Siapa Sebenarnya? merangkumnya, termasuk kritik-kritik lain yang paling sering dilontarkan ke HTI. Dan kalau kamu ingin memahami instrumen hukum yang membubarkan HTI secara resmi, itu sudah dibahas tuntas di HTI Dibubarkan Karena Apa.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah HTI benar-benar Khawarij menurut hadits?

Tidak ada kesepakatan tunggal. Ada kemiripan permukaan pada sikap kritis terhadap penguasa, tapi HTI membantah dengan argumen metodologis: siapa yang dilawan (penguasa yang menjalankan hukum Allah atau tidak) dan metode yang dipakai (opini publik atau senjata) dianggap berbeda mendasar dari Khawarij historis.

Kenapa kalangan Salafi sering menyebut HTI Khawarij?

Karena dianggap menampilkan distorsi penafsiran nash, fanatisme metodologis yang tidak mentolerir penyimpangan kecil, dan pola kritik keras kepada penguasa yang dianggap mirip Khawarij. Ada juga kajian akademik yang mengangkat perbandingan “neo-Khawarij” ini secara ilmiah.

Apa beda metode HTI dengan Khawarij historis?

Menurut klaim HTI sendiri, Khawarij memerangi penguasa yang justru menjalankan hukum Allah dan mengkafirkan hampir semua pihak yang berbeda pendapat, termasuk sahabat besar Nabi. HTI mengklaim menasihati penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah lewat opini dan tulisan, bukan senjata, serta mengakui keabsahan seluruh rangkaian Khilafah dalam sejarah Islam.

Apakah tuduhan Khawarij ini berbahaya?

Bisa jadi, tergantung siapa yang memakainya dan untuk apa. Ada laporan bahwa tuduhan ini pernah dipakai sebagai dasar untuk menghalalkan darah anggota HTI dalam sebuah konferensi Taliban. Karena itu, tuduhan sebesar ini perlu ditimbang serius, bukan dilempar ringan sebagai bahan debat.

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel