Di One Piece, ada sebuah kekuatan yang selama berabad-abad dianggap mati. Disebut-sebut sebagai legenda, ditertawakan oleh mereka yang mengaku tahu, dan dikubur oleh catatan resmi dunia. Lalu suatu hari, jantungnya berdetak dengan irama yang berbeda, dan dunia yang menguburnya ikut gemetar. Yang dianggap usang ternyata tidak pernah benar-benar pergi.
Kekhalifahan memiliki nasib yang anehnya mirip. Selama lebih dari seribu tahun ia menjadi sistem yang menaungi sebagian besar dunia yang dikenal. Lalu pada 1924, ia dihapus, dan sejak saat itu dunia modern diajari satu narasi tunggal: kekhalifahan sudah selesai, sudah usang, dan tidak akan pernah kembali. Tulisan ini tidak bermaksud memaksakan kesimpulan apa pun. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang jarang diajukan dengan tenang: apa sebenarnya kekhalifahan itu, bagaimana sejarahnya, dan apakah “usang” adalah kata yang tepat, atau cuma cara lain untuk menutup pembicaraan.
Kekhalifahan Itu Apa, Sebenarnya?
Secara ringkas, kekhalifahan adalah sistem kepemimpinan umat Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah, pengganti Rasulullah dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Kata “khalifah” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “pengganti” atau “yang datang sesudah”. Maka kekhalifahan secara harfiah adalah “perihal menggantikan”.
Yang sering terlewat dari definisi ini: kekhalifahan bukan sekadar nama sebuah kerajaan, dan bukan pula bentuk pemerintahan yang sama dengan monarki atau kekaisaran pada umumnya. Ia adalah sistem yang berdiri di atas dua fungsi: menjaga agama (hirasat ad-din) dan mengatur urusan dunia (siyasat ad-dunya). Khalifah dipilih, bukan diwariskan secara otomatis. Ia diikat oleh syariat, dan dalam teori politik Islam, ia bisa dimintai pertanggungjawaban.
Banyak yang baru mendengar kata ini dari berita, dari debat, atau dari meme. Dan karena itu, tidak sedikit yang memahaminya dari label, bukan dari isi. Kekhalifahan dianggap sama dengan kerajaan, atau dianggap sama dengan satu organisasi tertentu. Padahal keduanya salah sasaran. Sebelum menilai, ada baiknya kita mengenal sejarah yang sebenarnya.
Dari Abu Bakar sampai Utsmaniyah: Seribu Tahun yang Terlupakan
Sejarah kekhalifahan dimulai segera setelah wafatnya Rasulullah. Para sahabat berkumpul dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama, lalu berlanjut ke Umar, Utsman, dan Ali. Empat khalifah pertama ini dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, masa yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai contoh paling dekat dengan petunjuk.
Setelah itu, bentuknya berubah-ubah. Ada masa Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, lalu berbagai dinasti yang saling menguatkan dan melemahkan. Di puncaknya, Baghdad menjadi pusat ilmu dunia: perpustakaan, penerjemahan, observatorium, dan para ilmuwan yang karyanya kemudian menjadi fondasi kebangkitan Eropa. Kekhalifahan Abbasiyah bukan sekadar kekuatan politik; ia adalah peradaban yang menaungi ilmu.
Kemudian datang Utsmaniyah, yang oleh sebagian sejarawan dianggap sebagai kekhalifahan terakhir yang diakui luas. Selama lebih dari enam abad, Utsmaniyah membentang dari Eropa Tenggara sampai Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia menjadi kekuatan dunia yang diperhitungkan, sampai akhirnya runtuh di ujung Perang Dunia Pertama.
Pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional Turki secara resmi menghapus jabatan khalifah. Sebuah institusi yang berusia lebih dari seribu tahun berakhir dengan keputusan politik di tengah gejolak perubahan zaman.
Kenapa Ia Dianggap Usang
Setelah penghapusan itu, narasi yang berkembang di dunia modern cukup seragam: kekhalifahan adalah masa lalu, dan masa lalu tidak akan kembali. Argumennya biasanya berbentuk begini. Pertama, bentuk negara modern sudah ditemukan, dan sistem lama dianggap tidak relevan. Kedua, kekhalifahan dikaitkan dengan kekerasan atau ketertinggalan, sering kali lewat gambar-gambar yang dipilih dari konteks yang sempit. Ketiga, karena sudah lama tidak ada, ia dianggap mustahil secara praktis.
Tapi ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah “usang” itu penilaian yang netral, atau keputusan politik? Sejarah mencatat bahwa narasi tentang kekhalifahan sering kali ditulis oleh pihak yang diuntungkan oleh kepergiannya. Dan ketika sebuah narasi diulang cukup lama, ia berubah dari klaim menjadi “akal sehat”, padahal akal sehat yang tidak pernah diuji hanyalah kebiasaan yang diwariskan.
Bedah Istilah yang Sering Tertukar
Sebagian kebingungan muncul karena istilah yang dipakai bergantian tanpa dibedakan. Khalifah adalah orangnya, pemimpinnya. Khilafah adalah sistem atau jabatannya. Kekhalifahan adalah istilah Indonesia untuk khilafah, sering dipakai untuk menunjuk pada periode historis atau sistem secara umum. Sementara “kekhilafan”, dengan huruf “i” tambahan, adalah kata yang salah eja dan justru sering dikaitkan dengan makna negatif yang tidak ada hubungannya.
Perbedaan ini penting karena banyak perdebatan berputar di atas kesalahpahaman istilah. Orang bertengkar tentang “kekhilafan” padahal yang dibahas adalah “kekhalifahan”. Sebelum berdebat tentang sesuatu, setidaknya namanya harus benar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kekhalifahan dan khilafah itu sama atau beda?
Sama dalam arti merujuk pada sistem yang sama. Kekhalifahan adalah padanan Indonesia dari khilafah. Khalifah adalah pemimpinnya.
Kapan kekhalifahan berakhir?
Secara resmi, jabatan khalifah dihapus pada 3 Maret 1924 oleh Majelis Nasional Turki, menandai berakhirnya Kekhalifahan Utsmaniyah.
Apakah kekhalifahan sama dengan kerajaan?
Tidak. Dalam teori, khalifah dipilih dan diikat syariat, berbeda dari monarki yang mewariskan tahta. Meski dalam praktik sejarah sebagian periode menyimpang dari teori, secara konsep keduanya berbeda.
Mengapa topik ini terus dibahas jika sudah usang?
Justru karena narasi “sudah usang” itu sendiri yang dipertanyakan. Ketika sebuah topik ditutup tanpa dibedah, ia tidak hilang; ia hanya dipindah ke bawah permukaan, dan dari sana ia terus memengaruhi cara orang melihat dunia.
Mengapa Pertanyaan Ini Belum Selesai
Kekhalifahan bukan sekadar soal sejarah yang sudah berakhir. Ia adalah pertanyaan tentang bagaimana umat Islam memandang urusan dunia mereka: apakah agama hanya urusan hati, atau juga urusan pengaturan hidup bersama? Pertanyaan itu tidak pernah kedaluwarsa, karena ia menyangkut sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bentuk pemerintahan.
Maka ketika seseorang menyebut kekhalifahan “usang”, mungkin yang sedang terjadi bukan akhir dari pembahasan, melainkan awal dari pembahasan yang sebenarnya. Dan seperti detak yang tidak bisa dibungkam itu, pertanyaan ini akan terus berbunyi selama ada orang yang berani berpikir sendiri.
Ini bukan kesimpulan, melainkan undangan untuk membaca lebih dalam. Kalau kamu baru mulai, apa itu khilafah adalah pintu masuk yang baik, dan khilafah artinya menjelaskan akar katanya dari awal. Sejarah kekhalifahan bisa ditelusuri lebih jauh dari sana, dengan tenang dan tanpa tergesa.