Saya pernah makan bersama seorang teman dari negeri yang jauh. Di tengah obrolan, ia memperhatikan saya makan dengan tangan kanan, lalu bertanya, “Kenapa harus tangan kanan?”
Saya jawab apa adanya, “Di tempat saya, makan pakai tangan kiri dianggap kurang pantas.”
Ia tersenyum. “Di tempat saya, itu sama sekali bukan masalah.”
Kami berdua tidak sedang salah. Kami cuma membawa cara pandang yang berbeda. Dan pertanyaan yang menggantung setelah senyum itu justru yang paling menarik: dari mana sebenarnya cara pandang itu datang? Bagaimana ia terbentuk di kepala kita masing-masing tanpa pernah kita pilih secara sadar? Dan kalau ia terbentuk, apakah ia bisa berubah?
Jawabannya ada pada tiga kata Arab yang jarang sekali diajarkan: mafahim, maqayis, qana’at.
Tiga Tahap Sebuah Keyakinan Terbentuk
Mafahim: ide yang kamu serap
Mafahim artinya pemahaman, konsep, ide. Ini tahap paling awal, saat kamu pertama kali menyerap sesuatu, dari orang tua, guru, lingkungan, layar yang kamu tonton tiap hari. Kamu menyerap bahwa “kerja keras itu baik”, bahwa “sukses itu berarti banyak harta”, bahwa “begini cara hidup yang benar”.
Di tahap ini ide-ide masih berserakan, belum tersusun jadi sistem. Tapi justru di sinilah letak yang paling menentukan, karena apa pun yang kamu serap di tahap ini akan jadi bahan baku semua tahap berikutnya. Maka pertanyaan paling penting di sini bukan “apa yang kupercaya”, melainkan: dari mana ide ini datang, dan apakah sumbernya layak dipercaya?
Maqayis: tolok ukur yang kamu pakai menilai
Maqayis artinya standar, kriteria, ukuran. Ide tidak tinggal sendiri di kepala. Pelan-pelan ia bertemu ide lain dan saling mengikat, lalu membentuk alat ukur yang kamu pakai untuk menilai dunia.
Ide “kerja keras itu baik” bertemu ide “sukses itu harta”, lalu lahir tolok ukur: “orang yang sukses pasti yang paling keras kerjanya, dan yang gagal pasti malas.” Begitu tolok ukur ini terbentuk, ia bekerja otomatis. Kamu melihat seseorang yang santai, dan tanpa sadar sudah menghakiminya, “dia tak akan ke mana-mana.” Kamu melihat sesuatu yang tak biasa, dan refleks menilainya “tidak benar.” Tolok ukur inilah penggarismu terhadap dunia, dan ia terus menguat tiap kali pengalaman seakan membenarkannya.
Qana’at: keyakinan yang tak lagi kamu pertanyakan
Qana’at artinya keyakinan yang sudah mengkristal, kepercayaan dasar yang tak lagi kamu gugat. Saat sesuatu sudah mencapai tahap ini, kamu berhenti memikirkannya dan mulai menjalaninya. Ia bukan lagi “menurutku begini”, tapi sudah jadi “memang begini kebenarannya”.
Dan inilah kenapa orang begitu sulit berubah pikiran. Begitu sebuah ide naik ke tahap qana’at, ia tak lagi diuji dengan logika, ia dibela dengan logika. Saat ada bukti yang bertentangan, orang tidak mengubah keyakinannya; ia justru sibuk mencari alasan agar keyakinannya tetap utuh.
Yang paling sulit kamu pertanyakan bukan ide yang baru kamu dengar, tapi ide yang sudah lama kamu jalani sampai lupa bahwa ia dulu pernah cuma sekadar ide.
Di Setiap Tahap, Ada Celah untuk Dibajak
Sekarang lihat perjalanannya sebagai satu rantai: kamu menyerap ide, ide itu mengeras jadi tolok ukur, tolok ukur itu mengkristal jadi keyakinan. Masalahnya, di tiap mata rantai ada celah. Kalau yang mengajarimu keliru, mafahim-mu keliru sejak awal. Kalau tolok ukurmu disusun dari ide-ide cacat, keputusanmu ikut cacat. Dan kalau keyakinanmu tak berpijak pada kebenaran, arah hidupmu ikut salah, tanpa kamu pernah merasa salah.
Inilah persisnya cara kerja propaganda modern, dan ia sangat efektif justru karena bekerja dari hulu. Ia tak repot-repot berdebat denganmu sebagai orang dewasa. Ia mengatur apa yang kamu serap sejak kecil di sekolah dan layar (mengisi mafahim), lalu setiap lembaga dan tontonan mengulang pesan yang sama sampai jadi tolok ukur (memperkuat maqayis), sampai akhirnya kamu meyakini sesuatu yang tak pernah kamu uji sendiri (membentuk qana’at). Kamu cuma mewarisi keyakinan itu, lalu mengira itu hasil pikiranmu sendiri. Dan ketika ada yang berani mempertanyakannya, ia akan cepat-cepat dicap “berlebihan” atau “tak waras”, padahal ia cuma sedang bertanya dari mana keyakinan itu berasal.
Maka Perubahan Selalu Dimulai dari Hulu
Kalau begitu cara cara pandang terbentuk, maka begitu pula cara ia diperbaiki: dari hulu, bukan dari hilir.
Perubahan sejati tidak dimulai dengan meledak-ledak menolak segala yang lama atau menelan bulat segala yang baru. Ia dimulai dengan satu pekerjaan yang sunyi, memeriksa ulang mafahim-mu: apa yang sebenarnya kuserap, dari siapa, dan benarkah ia?
Periksalah dengan alat yang sudah kita kenal. Lewatkan tiap keyakinan melalui Pilar Kebenaran, ada fakta, ada dalil, ada kesesuaian? (Selengkapnya di Tiga Pilar Kebenaran.) Lalu uji lagi dengan tiga indikator, apakah ia memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah? (Saya bahas di Kebenaran yang Memuaskan Akal.)
Saat kamu memeriksa ulang ide-ide dasarmu seperti ini, tolok ukurmu pelan-pelan ikut bergeser. Standarmu tentang apa yang baik, adil, dan pantas mulai berubah. Dan ketika tolok ukur bergeser, keyakinan akan menyusul, tidak seketika, tapi perlahan, sebab qana’at memang dibangun di atas maqayis. Beginilah kebangkitan cara berpikir bekerja: bukan dengan amuk dan teriakan, tapi dengan perubahan yang sabar di lapisan paling dasar.
Dan wahyu sendiri menegaskan bahwa pekerjaan ini menuntut kesadaran, bukan paksaan:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
Lā ikrāha fid-dīn, qad tabayyanar-rusydu minal-ghayy.
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat."
Perhatikan, kebenaran disebut sudah jelas, tapi “jelas” itu hanya tampak bagi yang mau membuka mata, mata akal, hati, dan fitrah yang jernih. Maka kalau kamu sungguh ingin mengubah sesuatu yang besar, mulailah dari yang paling kecil dan paling dalam kendalimu. Tanyakan pada dirimu hari ini: apa yang kupercaya, dari mana ia datang, dan apakah ia kubangun di atas kebenaran, atau sekadar warisan yang tak pernah kuperiksa?
Mafahim, maqayis, dan qana’at adalah bahan dasar yang menyusun cara berpikir Islam yang utuh. Bagaimana ketiganya bekerja sebagai satu timbangan, saya rangkum di sana.