Ada satu kebingungan yang sering saya dengar dari mereka yang sungguh-sungguh ingin menyampaikan kebaikan, dan kebingungan ini hampir selalu muncul dalam tiga pertanyaan yang berurutan.
“Apakah kami harus tetap memakai cara-cara lama?”
“Atau boleh memakai cara modern supaya menjangkau lebih banyak orang?”
“Sampai sejauh mana kami boleh menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kebablasan?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersembunyi dua hal yang sangat berbeda dan terus-menerus tertukar: thariqah dan uslub. Begitu kamu bisa membedakan keduanya, kebingungan tadi sebagian besar selesai dengan sendirinya, dan kamu tahu kapan harus bertahan mati-matian dan kapan harus berani berubah.
Thariqah: Jalan yang Tidak Boleh Dibelokkan
Thariqah artinya jalan atau metode. Tapi dalam konteks ini, ia menunjuk pada prinsip-prinsip mendasar yang terikat langsung pada nilai inti, dan karena itu tidak boleh diubah. Ia bukan soal alat, ia soal arah.
Berdakwah dengan dialog dan menghargai akal, bukan dengan paksaan, itu thariqah. Mendahulukan pembinaan pemikiran dan akidah sebelum yang lain, itu thariqah. Jujur dalam bermuamalah dan tidak menipu, itu thariqah. Semua ini jalan, dan begitu kamu membelok dari jalannya, kamu sebenarnya sudah tidak lagi menuju tujuan yang sama, sebagus apa pun kendaraanmu.
Karena ia terikat langsung pada prinsip, thariqah tidak boleh dikompromikan. Mengubahnya bukan “menyesuaikan diri”, tapi berganti tujuan diam-diam.
Uslub: Sarana yang Justru Harus Ikut Zaman
Uslub artinya cara, gaya, sarana penerapan. Inilah alat untuk menjalankan thariqah, dan justru di sinilah perubahan bukan cuma boleh, tapi sering wajib mengikuti zaman.
Thariqah-nya berdakwah lewat dialog; uslub-nya, apakah dialog itu lewat surat seperti zaman dulu, lewat tatap muka, atau lewat layar dan podcast hari ini? Ketiganya sah, asal ruh dialognya tetap. Thariqah-nya berbisnis dengan jujur; uslub-nya, apakah jualnya di pasar atau di lapak daring? Keduanya sah, asal kejujurannya utuh. Alat boleh berganti seperti kamu berganti kendaraan; yang tak boleh berganti adalah arah tujuanmu.
Pelajaran dari Dua Babak Hidup Nabi
Cara paling jernih melihat bedanya adalah menengok dua babak besar perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu masa Makkah dan masa Madinah.
Di masa Makkah yang berlangsung kira-kira tiga belas tahun, thariqah-nya jelas: memusatkan perhatian pada pembinaan akidah dan tauhid, menempa karakter dan keberanian untuk teguh pada prinsip, dengan jalan dialog dan penyadaran, bukan kekerasan. Sementara uslub-nya menyesuaikan keadaan: memakai bahasa dan cara bertutur yang akrab bagi masyarakat Makkah yang menyukai keindahan kata, memanfaatkan tempat-tempat berkumpul yang ada, dan membangun komunitas kecil yang kokoh lebih dulu.
Lalu datang masa Madinah, kira-kira sepuluh tahun. Thariqah-nya tetap sama di intinya: akidah tetap jadi fondasi, dialog dan musyawarah tetap jadi cara mengambil keputusan, pembinaan karakter tetap berjalan. Tapi uslub-nya berubah drastis seiring keadaan yang berubah: kini terbentuk pengaturan urusan bersama yang lebih tertata, lahir kesepakatan tertulis yang kita kenal sebagai Piagam Madinah, urusan ekonomi dan hubungan antarkelompok dikelola dalam skala yang jauh lebih besar.
Lihat bedanya. Arahnya, thariqah-nya, konsisten dari Makkah ke Madinah. Tapi sarananya berubah jauh, dari komunitas kecil yang akrab menjadi pengaturan urusan publik yang luas. Inilah teladan paling tua tentang memegang teguh prinsip sambil luwes pada sarana.
Kenapa Banyak yang Tersesat di Sini
Begitu kamu memahami beda keduanya, kamu jadi paham kenapa banyak usaha kebaikan akhirnya tersesat. Hampir selalu karena keduanya tertukar.
Ada yang berkata, “Kami harus tetap memakai cara lama persis, karena itu cara Nabi.” Di sini thariqah dan uslub tertukar; mereka menyangka sarana zaman dulu adalah prinsip, padahal sarana memang tak pernah bisa sama persis lintas zaman.
Ada pula yang sebaliknya berkata, “Kami boleh mengompromikan prinsip, yang penting tujuan tercapai.” Ini tertukar dengan arah yang berlawanan; mereka mengorbankan thariqah demi uslub, mengorbankan arah demi kendaraan. Dan ini yang berbahaya.
Yang benar berdiri di antara keduanya: prinsip tidak boleh ditawar, sarana harus, bahkan, luwes mengikuti zaman.
Belok arah, kamu tersesat sejauh apa pun kamu melaju. Ganti rute menuju arah yang sama, kamu cuma sedang mencari jalan yang lebih cepat sampai.
Jebakan Halus: Mengaku Luwes, Padahal Berkhianat
Ada satu jebakan yang perlu kamu waspadai pada diri sendiri. Sering orang berkata “kami cuma fleksibel soal cara”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia sedang menggadaikan prinsip.
“Kami pakai trik manipulatif biar viral,” padahal itu mengorbankan kejujuran dialog. “Kami menipu sedikit demi untung yang lebih besar,” padahal itu mengorbankan kejujuran muamalah. “Kami melunakkan nilai biar disukai banyak orang,” padahal itu mengorbankan integritas. Semua ini bukan keluwesan uslub, ini pengkhianatan thariqah, dan ia selalu berbuah pahit dalam jangka panjang, sekalipun manis di awal.
Maka lain kali kamu menimbang sebuah cara, lewatkan ia lewat tiga pertanyaan. Pertama, ini prinsip atau sekadar sarana? Kedua, kalau ia prinsip, bolehkah kukompromikan? Jawabannya tidak, sebab kompromi di sini berarti salah arah. Ketiga, kalau ia cuma sarana, adakah sarana lain yang lebih baik? Jawabannya boleh, silakan bereksperimen sepuasnya.
Ada satu perumpamaan sederhana yang sering saya pakai untuk mengunci ini di kepala, dan saya tegaskan ini cuma perumpamaan, bukan kutipan dalil. Bayangkan kiblat dan jalan menuju masjid. Arah kiblat itu seperti thariqah, tetap, tak boleh diubah. Jalan menuju masjid itu seperti uslub, boleh berganti rute sesuka keadaan. Berbelok arah kiblat, kamu salah total. Tapi mengganti jalan menuju masjid, itu tak masalah, asal ujungnya kamu tetap menghadap arah yang sama.