Coba bayangkan ada orang yang berkata, “Apel jelas lebih unggul dari jeruk, karena apel ini segar sementara jeruk itu sudah busuk.” Kamu pasti merasa ada yang janggal. Dia tidak sedang membandingkan apel dengan jeruk, dia sedang membandingkan apel yang bagus dengan jeruk yang rusak. Dua hal yang tidak setara dijejerkan, lalu salah satunya dinyatakan menang. Hasilnya terasa meyakinkan, padahal timbangannya sejak awal sudah miring.
Cara salah-banding seperti ini diam-diam sering kita pakai saat berbicara soal Islam, dan kadang merugikan kita sendiri. Orang membandingkan “Islam yang sempurna” dengan “penerapan manusia yang berantakan”, lalu menyimpulkan ada yang salah dengan Islam. Atau sebaliknya, membandingkan Islam yang ideal dengan ideologi lain pada bentuknya yang paling cacat, lalu merasa sudah menang telak. Dua-duanya apel lawan jeruk. Supaya tidak terjebak, satu hal harus dipisahkan lebih dulu: mana yang sempurna dan mana yang sebenarnya tidak pernah mengklaim sempurna.
Dua Hal yang Sering Dicampur
Ada dua perkara yang kelihatannya satu, padahal beda lapisan. Yang pertama adalah Islam sebagai wahyu: Al-Qur’an dan sunnah yang datang dari Allah. Yang kedua adalah pemahaman manusia atas wahyu itu: tafsir, ijtihad, dan kesimpulan yang disusun oleh akal manusia ketika membaca wahyu. Lapisan pertama sempurna karena sumbernya Allah. Lapisan kedua bisa benar, bisa keliru, karena yang mengerjakannya manusia.
Tentang lapisan pertama, Al-Qur’an sendiri menyatakannya dengan tegas:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu 'alaikum ni'matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā.
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
Perhatikan apa yang dinyatakan sempurna di sini: agama yang Allah turunkan, bukan pemahaman setiap orang yang menganutnya. Wahyunya lengkap dan tidak kurang. Tapi kepala manusia yang membacanya tetap kepala manusia, dengan keterbatasan ilmu, zaman, dan sudut pandangnya masing-masing. Mencampur dua lapisan ini adalah pangkal dari banyak salah paham, baik dari orang yang menyerang Islam maupun dari orang yang ingin membelanya.
Yang sempurna adalah wahyunya, bukan otomatis kepala yang membacanya. Memisahkan keduanya adalah awal dari berpikir yang jujur.
Kenapa Bisa Ada Empat Mazhab
Kalau wahyunya satu dan sempurna, kenapa lahir empat mazhab besar yang kadang berbeda kesimpulan? Justru di sinilah bukti paling jelas bahwa pemahaman manusia itu berlapis dan bisa berbeda. Para imam mazhab membaca wahyu yang sama, dengan kejujuran dan keilmuan yang sama-sama tinggi, lalu sampai pada kesimpulan yang kadang tak sama karena dalil bisa dipahami lebih dari satu cara, dan tidak semua perkara ditetapkan secara pasti tertutup.
Yang menarik, para imam itu sendiri yang paling sadar bahwa pemahaman mereka bukan wahyu. Masyhur dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i ucapan yang kira-kira berbunyi: pendapatku benar yang mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah yang mengandung kemungkinan benar. Imam Malik bahkan pernah menunjuk makam Nabi dan berkata bahwa ucapan setiap orang bisa diambil atau ditolak, kecuali ucapan beliau yang ada di dalam makam itu. Itu bukan kerendahan hati basa-basi, itu pengakuan tentang batas: yang ma’shum cuma wahyu, selebihnya manusia.
Maka perbedaan pendapat yang lahir dari ijtihad yang jujur bukan tanda agama yang retak, melainkan tanda manusia yang sadar diri. Dan ketika perbedaan itu meruncing, Islam tidak menyuruh kita saling menyalahkan tanpa ujung, melainkan kembali ke sumber yang sempurna tadi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Yā ayyuhalladzīna āmanū aṭī'ullāha wa aṭī'ur-rasūla wa ulil-amri minkum. Fa in tanāza'tum fī syai'in fa ruddūhu ilallāhi war-rasūli in kuntum tu'minūna billāhi wal-yaumil-ākhir. Dzālika khairuw wa aḥsanu ta'wīlā.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Sumber yang sempurna jadi tempat kembali ketika pemahaman yang berlapis berselisih. Itu sebabnya beda mazhab tidak meruntuhkan apa-apa: di atas semua tafsir, ada wahyu yang menjadi rujukan bersama.
Salah Banding yang Halus
Sekarang kembali ke apel dan jeruk tadi. Kekeliruan yang paling sering terjadi adalah membandingkan dua hal dari lapisan yang berbeda, lalu menarik kesimpulan seolah adil. Ada yang membandingkan Islam pada bentuk idealnya dengan penerapan manusia yang masih jauh dari ideal, lalu menyimpulkan Islam gagal. Padahal yang sedang dibandingkan adalah cita-cita wahyu lawan kenyataan manusia yang belum selesai. Ada ungkapan masyhur yang menangkap hal ini: Islam itu sering tertutup oleh perilaku para pemeluknya sendiri. Yang ditolak orang bukan Islamnya, tapi tampilan kita yang belum mencerminkannya.
Yang penting dijaga, pelajaran ini memotong dua arah. Tidak adil membandingkan Islam-ideal dengan ideologi-lain pada bentuknya yang paling rusak lalu merasa menang telak, sebagaimana tidak adil membandingkan ideologi-ideal dengan penerapan muslim yang paling buruk lalu menyimpulkan Islam kalah. Banding yang jujur menyandingkan lapisan yang sama: gagasan dengan gagasan, penerapan dengan penerapan. Cara menimbang seperti inilah yang sudah saya uraikan di tiga pilar kebenaran: sebuah klaim diuji oleh fakta dan dalil yang setara, bukan oleh perbandingan yang dimiringkan sejak awal.
Pagar: Tawadhu, Bukan Tak Ada yang Pasti
Di sini ada satu jurang yang harus dihindari. Dari kalimat “pemahaman manusia bisa keliru”, sebagian orang melompat terlalu jauh ke kesimpulan “kalau begitu semua pendapat sama saja dan tidak ada yang bisa dipastikan”. Itu bukan tawadhu, itu sudah jadi relativisme yang meruntuhkan segalanya. Padahal yang terbuka untuk berbeda hanyalah wilayah ijtihadi yang dalilnya memang zhanni. Yang sudah pasti (qath’i), seperti wajibnya shalat dan haramnya zina, tidak ikut cair hanya karena ada perkara lain yang diperdebatkan ulama. Mengakui sebagian pemahaman bisa keliru tidak sama dengan mengatakan tidak ada kebenaran yang bisa dipegang.
Mengakui kita bisa keliru itu tawadhu. Menyimpulkan karena itu tak ada yang pasti, itu sudah keliru yang lain lagi.
Pagar yang kedua memotong arah sebaliknya. Kalimat “kita kan cuma manusia yang bisa salah” tidak boleh berubah jadi tameng untuk menolak setiap koreksi. Ada orang yang, begitu pendapatnya dikritik dengan dalil yang lebih kuat, langsung berlindung di balik “ah, semua orang kan bisa salah” supaya tidak perlu mengubah apa-apa. Kesadaran bahwa kita fallible justru seharusnya membuat kita lebih mau mendengar bukti, bukan lebih kebal terhadapnya. Yang membedakan tawadhu dari pembelaan diri adalah kesediaan untuk benar-benar menimbang ketika data dan dalil ternyata tak berpihak pada kita.
Maka peganglah dua hal ini bersamaan: wahyunya sempurna, dan kepala kita yang membacanya belum tentu. Yang pertama membuat kita yakin ada kebenaran yang layak dicari. Yang kedua membuat kita rendah hati saat menyimpulkannya, dan terbuka ketika orang lain membawa dalil yang lebih terang. Sikap inilah yang membuat perbedaan pendapat berubah dari sumber permusuhan menjadi ruang belajar, persis seperti cara menimbang yang sehat yang saya bahas di tingkatan berpikir.