Ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar lucu, tapi hampir selalu dijawab dengan tawa kecil yang gugup:
“Kenapa kita santai menerima Islam mengatur shalat, wudhu, dan puasa, tapi tiba-tiba gelisah ketika Islam mulai bicara soal ekonomi, perdagangan, atau cara mengurus urusan bersama?”
Tawa gugup itu sendiri sebenarnya sudah jadi jawaban. Ia menandakan ada sesuatu yang sudah lama kita terima sebagai normal, padahal kalau ditatap lebih lama, terasa ganjil: kebiasaan memotong hidup jadi dua bagian.
Hidup yang Diam-diam Dibelah
Tanpa pernah memutuskannya secara sadar, kebanyakan kita hidup dalam pembelahan yang rapi. Di masjid, kita tunduk pada Islam sepenuhnya. Di kantor, kita ikut “aturan main universal” dunia kerja. Di rumah, nilai-nilai agama kembali dipakai. Di pasar, logika untung-rugi yang berkuasa. Dan anehnya, kita dibuat percaya bahwa pembelahan ini wajar, bahkan sehat.
Maka seorang pengusaha muslim yang mencari untung dengan cara yang meragukan bisa berkata enteng, “Bisnis itu lain urusannya dengan agama, bisnis pakai logika pasar.” Seseorang yang santun di rumah tapi ikut menggunjing di tempat kerja bisa berkilah, “Ya namanya juga manusiawi.” Kita menyusun standar ganda, lalu memberinya nama yang anggun: fleksibilitas.
Padahal yang sedang terjadi adalah ini: kita memilih nilai siapa yang berkuasa di tiap ruang, lalu lupa bahwa tak ada satu ruang pun yang benar-benar “bebas nilai”.
Apa Sebenarnya Makna “Kaffah”
Al-Qur’an menyebut satu kata yang menutup celah pembelahan itu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
Yā ayyuhalladzīna āmanudkhulū fis-silmi kāffah.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan."
Kata kaffah bukan pilihan kata yang kebetulan. Ia berarti menyeluruh, utuh, tak menyisakan ruang yang dikecualikan. Bukan berarti kamu harus jadi ahli di setiap bidang kehidupan, bukan itu maksudnya. Maksudnya, prinsip-prinsip dasar Islam dibiarkan meresap ke setiap dimensi hidupmu: caramu mencari rezeki, caramu memperlakukan orang, caramu memilih hiburan, caramu berbicara, bahkan caramu berpikir.
Tidak ada bagian yang sungguh-sungguh netral. Semuanya selalu terikat pada suatu nilai. Pertanyaannya cuma satu, dan ini yang sering kita hindari: nilai siapa yang sedang kamu pakai di bagian itu?
Tiga Lapis Tujuan dalam Hidup yang Utuh
Untuk membayangkan hidup yang utuh, ada baiknya mengenal kerangka maqashid, yaitu tujuan-tujuan yang ingin dijaga oleh syariat. Ia bertingkat tiga, dan tingkatannya membantu kita menimbang mana yang tak boleh dikorbankan demi mana.
Yang paling dasar adalah dharuriyat, kebutuhan pokok yang kalau hilang, hidup jadi rusak: terjaganya agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan keturunan. Dalam hidup yang utuh, kelima ini dijaga secara konsisten di semua ruang. Artinya caramu mencari nafkah tidak boleh sampai menggerus imanmu, tidak boleh meracuni akal, tidak boleh menghancurkan jiwamu dengan tekanan yang tak perlu, tidak boleh mengorbankan kehormatan. Sementara hari ini, tak jarang seseorang rela mengorbankan kelimanya demi satu angka yang lebih besar, lalu menyebutnya “tuntutan profesional”.
Di atasnya ada hajiyat, kebutuhan yang membuat hidup lebih lapang meski bukan soal mati-hidup, seperti kemudahan, kenyamanan yang wajar, pendidikan yang baik. Aturannya sederhana: hajiyat tidak boleh menabrak dharuriyat. Boleh mengejar hidup yang lebih mudah, asal bukan dengan mengorbankan yang pokok.
Dan paling atas ada tahsiniyat, penyempurna dan penghias hidup, seni, keindahan, hal-hal yang membuat hidup terasa lebih bermakna. Dalam hidup yang utuh, ia melengkapi, bukan menjelma jadi pengejaran kesenangan tanpa arah.
Hidup yang utuh bukan hidup yang sempurna. Ia cuma hidup yang tahu mana yang tak boleh ditukar demi mana, lalu menjaganya di semua ruang, bukan cuma di dalam masjid.
Kenapa “Kaffah” Justru Terdengar Menakutkan
Pertanyaan yang lebih jujur sebenarnya ini: kenapa di zaman ini, gagasan hidup yang utuh malah terasa mengancam bagi sebagian orang?
Jawabannya, karena keutuhan itu menantang kenyamanan susunan yang sekarang. Banyak hal berjalan mulus justru karena nilai dipisah-pisah: moral cukup di tempat ibadah, urusan untung tak usah dibawa-bawa nilai. Kalau kamu sungguh menjalani hidup yang utuh, nilai akan ikut menimbang tiap keputusanmu, termasuk keputusan yang menggiurkan tapi tak pantas. Kamu jadi tak bisa lagi menelan setiap peluang yang menguntungkan tapi merugikan orang lain. Itu terasa membatasi, dan apa pun yang membatasi keuntungan memang gampang dianggap musuh.
Tapi perhatikan, yang dipersoalkan di sini adalah idenya, bukan ajakan untuk bergabung ke mana pun. Saya tidak sedang mengajakmu masuk barisan siapa-siapa. Saya sedang mengajakmu menatap satu pertanyaan dengan jujur. Boleh kamu setuju, boleh kamu bantah, asal dengan alasan yang teruji, bukan sekadar tawa gugup.
Satu Pertanyaan untuk Kamu Bawa Pulang
Ambil satu ruang dalam hidupmu, terserah yang mana: pekerjaanmu, caramu berbisnis, caramu memperlakukan keluarga, caramu memilih tontonan. Lalu tanyakan dengan jujur: apakah ruang ini selaras dengan nilai yang kuyakini benar, atau diam-diam aku menjalankan nilai yang berbeda di sini, dan menerimanya cuma karena “semua orang juga begitu”?
Kalau jawabannya yang kedua, kamu sedang hidup dalam pembelahan. Dan keutuhan justru sedang mengetuk, mengajakmu keluar darinya, satu ruang lebih dulu. Sebab pada akhirnya hidup ini bukan main-main:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ
Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-ardha wa mā baynahumā lā'ibīn.
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main."
Kalau langit dan bumi saja tidak diciptakan main-main, masakah hidupmu, dengan segala keputusan yang menyusunnya, dijalani setengah-setengah? Keutuhan adalah caramu memperlakukan hidup dengan keseriusan yang setara dengan sebab kamu diciptakan. (Kalau kamu penasaran kenapa hidup yang terbelah terasa hampa, saya bahas akarnya di Krisis Makna.)